Aku salah seorang dari sekian manusia yang selalu gelisah. Salah seorang dari sekian orang yang tak pernah puas pada keadaan yang kurasakan juga kualami baik dalam sadar dan sesekali bahkan di dunia mimpiku. Aku orang yang selalu bertanya pada hidup, bertanya pada jiwa dan nurani terkadang juga pada nafsu. Terhadap kebenaran akupun tidak puas hanya dengan tahu bahwa itu benar, tapi lebih jauh dari semua itu akupun harus tahu kenapa semua itu benar, apa hakikat kebenaran itu. Seorang guru pernah berkata beberapa tahun silam bahwa imam besar dalam agamaku pernah berkata ‘jangan pernah puas terhadap sebuah kebenaran kecuali telah tahu hakikat kebenaran itu’.
Aku adalah seorang pemberontak. Pemberontak yang tak mau sedikitpun diperintah, dijajah, diperhamba kecuali oleh hal yang memang ku ijinkan dalam hati. Aku adalah jiwa pemberontak, jiwa yang tak pernah mengakui penjajahan terhadap jiwa-jiwa yang sebenarnya bebas kecuali hanya kepada yang Satu. Aku mencintai jiwa seperti jiwanya Rakuti ataupun Nambi, aku mencitai jiwa seperti jiwanya Diponegoro ataupun Tirtayasa, aku mencintai jiwa seperti jiwanya Sudirman. Jiwaku adalah jiwa pemberontak.
Aku orang yang keras, tapi aku bisa menjadi orang yang sangat lembut atau bahkan lemah di saat-saat tertentu. Aku orang yang gampang marah, tapi aku juga orang yang sangat gampang menangis. Penghinaan, tidak menghargai, kesombongan, kedzaliman adalah salah satu dari banyak hal yang ku benci. Di lain hal, aku akan sangat menangis ketika berdua dengan Tuhanku, menunduk sesekali tengadah menupahkan segala gundah dan berkesah padaNya tentang hidupku dan kegundahan jiwa. Air matakupun akan gampang jatuh saat mengingat wajah ibu. Aku adalah orang yang keras sekaligus lemah. Aku ingin seperti Umar ataupun Ali. Aku juga ingin seperti jiwanya Salahuddin. Tapi, di beberapa hal aku juga benci pada keras ataupun lemah.
Aku orang yang mudah mengagumi seseorang atau hal apapun. Tapi, aku tidak gampang mencintai seseorang, sangat butuh banyak waktu untuk bisa mengijinkan hati mencintai. Aku orang yang cepat tersinggung di beberapa keadaan, namun terkadang aku begitu sulit untuk membenci. Benci sebenarnya pada benci walau terkadang pada akhirnya aku tetap membiarkan hatiku untuk membenci. Aku orang yang telah belajar cinta sejak lahir, tapi sampai saat ini cintaku tetap tak terdefinisi. Aku orang yang telah lama bersahabat dengan rasa sedih,sakit atupun keperihan, sampai suatu saat aku mengetahui bahwa sedih tak selamanya sakit, juga sakit tak selamnya perih, terkadang aku merasakan sakit yang indah, sakit yang selalu ku rindu. Aku telah mengenal cinta dan air mata sejak lahir.
keep writting ka . aku suka :D
BalasHapusheh toni , ko ga difollow back siih ...
BalasHapuskeep blogging :)
BalasHapus