Disini , saat ini, sungguh sangat berbeda dengan waktu itu, saat aku merasakan rasa itu,waktu itu. Begitu berbeda dengan apa yang aku rasakan sekarang, rasa yang sanggup membuatku bingung memahaminya. Aku tidak tahu rasa itu berangkat darimana,apakah dari setumpuk khayalan tentang cinta, perasaan yang tersakiti, ataukah hanya sekedar nostalgia masalalu, ah aku masih belum bisa membahasakan apa dan bagaimana. Akupun belum mengerti apakah semua itu memang tidak bisa dibahasakan atau bahasaku belum sanggup melampuinya.
Disini, semuanya kadang tampak aneh, seaneh ia mendatangiku darimana. Sekarang aku hanya sekedar menyadari bahwa ia ada, keanehan yang lagi-lagi tidak sanggup ku mengerti. Saat itu aku telah katakan kepada hati bahwa sudah cukup kau merasakannya, sudah cukup kau terluka karenanya, sudah cukup kau sita senyummu dengan guratan kesedihan atau bahkan airmata yang seharusnya kau tumpahkan kepada Sang Empunya rasa itu. Sudah cukup kiranya semua itu aku rasakan. Tapi yah..,sekali lagi aku terpaksa menerimamu disini dengan segala keanehanmu.
Disini, aku belajar memahami dirimu, apakah kau memang seperti yang pernah ku kenal selama ini atau kau memang benar-benar suatu yang asing yang sama sekali belum pernah menyapa hidupku. Terkadang banyak orang mengatakan hal yang baru itu menarik, yah…terserah mereka bilang apa, aku tidak peduli aku hanya sekedar ingin memahami dan mengenalmu saja, tidak lebih. Kenapa …..
“Hey…what’s happen uy….???” Lilis meleburkan lamunanku, dia berdiri sambil menepuk kedua tangannya di depan wajahku, khas gaya dia. Sontak Aku terkejut, namun buru-buru ku ganti mimik wajahku seakan tidak ada apa-apa.
“Ciee..ciee…ngelamunin siapa ni…?hahh…hah.” Ejek dia ketawa-ketawa sambil duduk di samping kananku.
“Enggak ada ko, Cuma mencoba berpikir tentang hidup aja.” Kilahku.
“Hidup apa hidup…hidup siapa…?” Dia tidak mau kalah, sambil tersenyum dia mengucapkannya. Dia memang sering bercanda tapi jauh diluar sikap yang kadang selalu tidak pernah serius, dia adalah teman yang baik.
“Hidup siapa aja boleh….he..he..” Aku mengintonasikan seperti seorang teman yang sering bilang dengan kata-kata itu, siapa aja boleh. Kitapun sama-sama tertawa lepas seakan sore itu hanya milikku, seakan tidak ada sedikitpun beban dalam hati, seakan kebahagiaan hanya aku yang merasakan. Sesaat aku merasakan ini, begitu indahnya. Seandainya aku selalu merasakan ini…., ya seandainya. Makasih Lis kau telah menghadirkan tawa dan senyuman yang telah lama ku rindukan, walau hanya sesaat.
“Eh sebentar fan, sepertinya menarik ni ngomongin hidup…” Dia kembali menyadarkan lamunanku. Matanya menerawang ke depan seolah ia mau mengukur jarak matanya memandang.
“Kayaknya ada yang beda ni…” Sambil tersenyum ku mengucapkannya.
“Apanya yang beda..?” Tanya dia polos sambil mengerutkan kening.
“Tumben kau ngomong serius….hah..ha..ha..” Dia gusar begitu tahu ku kerjain.
“Eh dasar….” Dia mengucapkannya dengan wajah cemberut.
“Ok..ok mbak, baik…kita lanjutin yang tadi…” Aku kadang memang memanggilnya mbak walau usianya mungkin sedikit di bawahku. Dia sudah mendengarkanku dengan serius, mimik cemberutnya sudah hilang dari wajahnya.
“Hidup,…banyak orang mendefinisikan hidup dengan segala keanekaragamannya, hidup seperti ini lah, hidup seperti itu lah. Bagiku sih simple saja. Hidup ya…ya apa yang kamu rasakan sekarang, apa yang kau rasa ini, itulah hidup. Guruku pernah bilang bahwa tingkat filosofi tertinggi dalam hidup sebenarnya adalah now and here….emm…walaupun aku belum tahu secara pasti sih apa arti sebenarnya dari kata itu, tapi mungkin ia termasuk di dalamnya…” Ucapku panjang lebar.
Dia mendengarkan sesekali sambil manggut-manggut, tapi keningnnya kembali berkerut.” Aku enggak ngerti…. “ Dia lugu sekali mengucapkannya.
“ Sama, aku kadang juga enggak ngerti..he…he..” Aku tersenyum mengucapkannya.
“Ah curang nii…!!!
Sore itu kembali ku lalui seperti hari-hari kemarin, hari semenjak aku berkenalan dengan semua itu. Semuanya kadang tampak hambar, kadang juga beragam rasa yang tak ku mengerti harus ku definisikan apa. Apakah mereka juga merasakan hal ini aku tidak tahu. Kadang aku berbicara tentang hidup kepada teman-teman, berbicara tentang cinta, kadang-kadang. Tapi sepertinya aku tidak lebih dari seorang bocah kecil yang baru belajar menulis A, B dan C, sementara tumpukan buku itu adalah hidup.
Ah..alangkah kerdilnya diriku. Barangkali memang perlu waktu memahami semuanya.
Aku masih sangat ingat…
“Kamu memang hebat ya….!!” Kataku saat itu, saat senja yang berbalut mendung.
“Apa kali yang hebat…??” Ucapnya sambil tersenyum, memang setiap dia berkata, jarang sekali aku melihat bibir itu tidak tersenyum. Indah memang, untuk pertama aku melihatnya, tapi sekarang senyum itu tidak lebih dari kaktus berduri yang ditusukkan di hati, ya satu kata, perih. Tetapi aku meyakini itu mungkin memang yang terbaik yang harus terjadi.
“Auramu…”Kataku nyaris tak terdengar.
“Bercanda kali…Aura Kasih…he..he”Senyumnya kembali menghiasi bibirnya yang ranum. Dia begitu damai mengucapkannya, ya setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan selalu dia bumbuhi dengan kedamaian, atau mungkin aku yang melihatnya dari sudut yang berbeda, sudut yang lagi-lagi sulit ku jelaskan.
“Bukan Aura Kasih, tapi “Auramu”. Ia belum bisa ku buang dari hati ini. Padahal aku ingin membuangnya jauh-jauh, karena aku menyadari ia memang tidak boleh ada di hatiku. Tapi Ia begitu kuat mencengkeram hatiku. Tolong kasih tahu dong aku harus ngapain…?” Dengan suara berat ku kuatkan diri tuk mengatakannya.
“Aku juga gak tahu kamu harus ngapain…” Ucapnya datar, suaranya lembut.
“Doain ya, agar semua itu cepat berlalu dari hidupku karena ia sangat menyakitiku…” Desahku pelan.
“Masya Allah, aku menyakitimu ya…? Enggak ada sedikitpun niat dalam hatiku ngelakuin itu…!” Matanya yang teduh memandangku, ah aku tidak sanggup menatapnya.
“Bukan kok, bukan kamu. Kamu tidak pernah menyakitiku. Aku tersakiti karena diriku sendiri, karena perasaanku, perasaan yang kadang tidak patuh padaku. Gak apa-apa ko, semuanya akan baik-baik saja. Makasih ya…makasih atas semuanya.” Aku mencoba tersenyum, ya bibirku tersenyum, hatiku tidak.
“Makasih untuk apa…?
“Kebaikanmu…”
“Kebaikan apa…?
“Kebaikan sikapmu...”
“Sikap yang mana…?”
“Sikap yang ku suka…”
Dia tersenyum…
“Ya, sama-sama..”
Sesaat kadang aku manyadari bahwa ia tidak lebih dari perempuan biasa, perempuan yang biasa-biasa saja. Dia bukanlah perempuan tercantik yang pernah ku temui ataupun ku kenal. Dia juga bukan bidadari yang menjelma menjadi manusia seperti Nawang Wulan. Matanya yang sayu penuh kedamaian, hidungnya yang mancung, bibirnya yang selalu terbalut senyum yang indah, rasanya bukan sekali ini aku melihatnya. Tapi kenapa semuanya serba berbeda, dia tidak seperti yang lain walau mungkin sama. Atau mungkin juga ada hal yang tak terlihat yang membuatnya berbeda dari yang lain….? ya…sikapnya. Dia sopan. Dia sangat menghargai orang lain. Tidak norak. Dia juga mengerti perasaan. Ya mungkin itu yang membuatnya berbeda, mungkin ia juga yang telah menarik hatiku merasakan keanehan yang tak ku mengerti.
Ya…aku masih sangat ingat semua itu…….
Sang Surya telah menguning keemasan di ufuk barat sana pertanda malam akan mengganti sinarnya dengan selimut kekelaman, seperti kelamnya hatiku yang tak terjamah oleh Rembulan yang biasa menemani malam, Rembulan yang indah yang menyejukkan hati..yah..semoga suatu saat ada Rembulan yang mau manyinari hati ini dengan kedamaian dan kelembutan sinarnya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar