Senin, 22 November 2010

Purnama Semu 2

Ifa namanya. Bukan. Aku tidak tahu persis siapa namanya kala itu, hanya aku biasa menyebutnya dengan nama itu. Dia juga tidak peduli aku menyebutnya dengan nama apa, asal bukan sebutan yang buruk, katanya. Bijak juga. Ya, dialah perempuan yang telah menghadirkan keanehan yang tak ku mengerti. Kadang juga berbalur dengan rasa sakit yang tak terperi. Kadang juga menyeret hatiku merasakan sakit yang indah, sakit yang selalu ku rindu. Aneh memang. Tapi ku pikir tak usahlah menyesali apa yang telah terjadi. Yang terjadi itu adalah yang terbaik, “Tuhan tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, artinya yang terjadi memang yang terbaik”, Begitu kata guru ngajiku waktu masih SD. “ Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dariku." Kalimat yang sama-sama bijak juga hati yang mengatakannya juga hati yang bijak, aku menyukai hati keduanya.

Itulah sedikit gambaran tentang Ifa yang ada di hatiku. Perempuan yang memiliki senyum yang indah, hati yang bijak, perkatannya yang halus, tak lupa juga perempuan yang misterius. Ia sulit ku tebak seperti apa dan bagaimana. Tatapan matanya sangat sulit ku selami, ada rona disana. Tapi tetap saja disana tersaji keteduhan yang menyejukkan.

Ifa mungkin memang terlahir untuk menebarkan pesona untukku atau mungkin juga untuk kebanyakan adam yang lainnya. Seandainya ia lahir di masa mesir kuno ia akan mengantikan pesona Cleopatra sehingga mungkin Ifalah yang akan membuat Julius Caesar bertekuk lutut di hadapannya seperti bersimpuhnya hatiku di hadapannya. Ifa, Engkau memang indah.

Sebulan yang lalu, tepatnya di sebuah senja yang berbalut mendung itu. Semua rasa sakit berawal dari sana. Tapi ku pikir ia memang semestinya ku rasakan daripada memendam ketidakpastian yang akan membuat hati semakin tersiksa. Saat itu masih sore tapi panasnya udara tidak terasa sedikitpun, sore yang bersahabat. Saat itu, aku berniat tuk memberanikan diri mengatakan apa yang ku rasa padanya. Tekatku telah bulat. Aku mengambil hpku.

"Sore, sre ini ada acara ga..? klo bisa q pngn ktmu kmu d taman, ada hal yang pngn q smpaikn.” Klik, message send.

Beberapa detik kemudian hp berbunyi. Sudah pasti dia membalasnya.

"Sore jga, ga ada kok. emang ad ap,kyaknya pntng bnget..?"

"Iy bgq pntng c, ntr jga thu.bsa kn...?"

"Ok deh, insy..."

"Mkc...” Klik. ku letakkan hp di meja.

Sore itu, matahari tidak seterik hari-hari sebelumnya ia serasa lelah menyinari bumi yang selalu membutuhkan sinarnya. Aku menunggunya di taman, duduk di bangku yang memang disediakan di sana. Sesekali angin menyapaku seakan bertanya sedang apa duduk termangu. Beberapa menit kemudian dia terlihat melangkah gontai ke arahku. Dia datang. Dia memakai baju coklat muda dengan lengan panjang. Roknya hitam dengan beberapa sulaman bunga-bunga putih yang tidak begitu tampak. Wajahnya dibalut jilbab hitam kelam. Wajahnya putih bersih. Ada senyum tersungging di bibirnya ketika matanya beradu pandang dengan mataku. Aku tidak dapat menyembunyikan rasa yang terus berkecamuk dalam dada, takut, cemas, malu, bingung berbalur jadi satu.

"Hai, dah lama nunggunya ya..?" Aku tergeragap mendengarnya, bingung menjawabnya seakan dia menanyakan rumus matematika yang ku benci.

"Iii..iyaa, enggak kok" Ah mulutku seakan kelu mengucapkan kata-kata seperti bayi yang baru mau belajar bicara. Aku tidak tahu seperti apa raut wajahku saat itu. Ku coba menenangkan diri, menghirup nafas dalam-dalam, mengeluarkan kembali sampai tiga kali tapi tanpa sepengetahuannya.

"Kenapa, kok gugup seperti itu..? Ada yang salah..?"

"Enggak kok, enggak apa-apa. Makasih telah mau datang.Silahkan duduk"

"Owh, sore ini indah ya" Sambil duduk di sampingku dia mengitarkan pandangannya ke awan yang memayungi kami.

"Iii, iya" aku kembali gugup. Tak ku sangka dia juga mengagumi sore ini.

"Sore yang indah seindah wajahmu" Tanpa ku sadari kalimat itu keluar begitu saja, tanpa bisa ku kendalikan. Sontak aku terkejut.

"Ah, bisa aja" Ku lihat dia juga tidak bisa menyembunyikan kekagetannya mendengar ucapan konyolku tadi. Aku mencoba membalasnya dengan senyum yang entah apa artinya.

"Fa, sengaja aku mengajakmu kesini, lebih tepatnya mengundangmu ke sini tak lain juga tak bukan hanya menuruti keinginan hatiku saja." Aku mengucapkan tanpa berani menatapnya.

"Maksudmu?"

"Kamu telah menghadirkan keanehan yang tak ku mengerti"

"Keanehan apa?"

"Keanehan yang selama ini, ya, selama aku tahu kamu, aku kenal kamu, menghantui tiap helaan nafasku"

"Aku enggak mengerti maksudmu" Ia menatapku dalam-dalam, ku lihat sekilas ada kerutan kecil di dahinya.

"Aku tidak tahu persis seperti apa aku menggambarkannya padamu. Tapi ia nyaris menyita seluruh waktuku tuk melakukan apapun. Kamu hadir dalam hidupku begitu saja. Aku tidak tahu kapan aku mulai merasakannya, namun lambat laun rasa itu semakin kuat mencengkeram hatiku. Aku telah berusaha melepaskannya namun semuanya sia-sia, rasa itu semakin tumbuh bersemi di relung hatiku. Semakin aku berusaha membuangnya semakin kuat pula ia memelukku. Ia memaksaku untuk selalu mengingatmu di setiap malam dan hariku. Aku tidak sanggup menghilangkan pesonamu yang telah tertancap kuat dalam hati" Sesekali aku harus menarik nafas di tengah-tengah perkataanku. Bahkan, aku nyaris tidak tahu apa yang telah keluar dari mulutku, berbagai rasa mengaduk-ngaduk isi hati.

Suasana hening, dia tidak menjawab sepatah katapun. Matanya menatapku seakan ingin mengungkapkan ribuan bahasa yang hanya bisa terkatakan oleh matanya.

"Fa, aku hanya ingin mengatakan semua ini padamu agar aku tidak mempunyai beban lagi dalam hati. Aku juga enggak mengharap banyak padamu, ya kamu juga mempunyai rasa yang sama denganku, enggak, walaupun aku mengharapnya begitu. Aku tahu siapa aku dan siapa kamu. Kamu perempuan terindah yang aku tahu saat ini. Kamu bagai permata yang bersinar di tengah ribuan kerang-kerang yang dekil. Namun, sekarang dengan kerendahan hati, aku memenuhi keinginan hatiku tuk mengatakan ini semua padamu. Maukah kamu menemaniku kala sepi, maukah kau menjadi pelita di tengah kekalutan hidup yang ku hadapi, maukan kau mengisi kekosongan jiwaku..?? aku tahu aku sangat lancang mengatakan semua ini, maafkan aku." Ku kuatkan hati mengatakan semuanya, dadaku serasa sesak bagai ditindih batu yang besar. Aku tetap tidak berani menatapnya.

"Fan, kenapa kamu baru ngomong sekarang? Kenapa kamu bilang saat aku telah menerima cintanya? Kenapa kamu hadir saat aku baru belajar merasakan kebahagiaan dengannya, kenapa..?" emosinya menguap mengiringi setiap kata yang ia ucapkan. Ada bening di pelupuknya, nyaris jatuh tapi buru-buru dia usap.

"Maksudmu..?"

"Iya, aku telah menerima jony, teman kamu juga. Kita jadian sebulan yang lalu" Bagai tersambar petir aku mendengarnya, hatiku bagai dihunjam ribuan bahkan jutaan panah beracun. Aku tidak percaya apa yang ku dengar. Aku seolah berhenti bernafas, seperti tidak ada udara yang bisa ku hirup.

"Tapi..." Aku tidak bisa meneruskan perkataanku.

"Tapi apa, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kamu diam saja? Dari dulu aku ingin kamu mengatakan kamu suka aku, kamu ingin bersama aku. aku ingin kamu hadir di saat aku kesepian. Aku mengharap kamu di setiap malamku. Aku mengharap kamu datang menemaniku. Tapi apa, apaa...?? Kamu sama sekali tidak pernah merasakannya, kamu tidak pernah datang padaku" Ia tidak dapat lagi menahan air matanya. Satu demi satu butir-butir bening itu jatuh membasahi pipinya. Tangannya yang mungil tidak dapat lagi menghalanginya.

Aku tidak dapat berkata apa-apa, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya mampu diam dan diam. Kepalaku pening. Dadaku sesak. Ia terdengar sesunggukan sesaat, lalu hening. Kami diam beberapa menit. Mungkin hanya dengan diam semuanya terkatakan.

"Fan, makasih atas kejujuranmu. Aku sangat menghargainya, walaupun sebenarnya telah lama aku mengharapnya hingga kamu hadir sekarang, saat aku telah berusaha tuk menghapusmu dengan cintanya. Beribu maaf bagimu. Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dariku"

"Maafkan aku" Ucapnya serak. Aku hampir tidak mendengarnya. Kembali bening itu jatuh dari pelupuknya. Ia lalu beranjak meninggalkanku sendiri di taman, berlari dan menghilang di sudut jalan sana.

"Maafkan aku Fa" Bibirku bergetar mengucapkannya walau di hadapanku hanya terhampar rumput-rumput yang menghijau dan bunga-bunga tanpa ada dia mendengarnya, tapi paling tidak rumput dan bunga itu juga jadi saksi perihnya hatiku merasakan semuanya. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Aku mencoba menengadahkan wajahku. Ku lihat senja di sana, senja yang biasanya indah, kini berbalut mendung. Senja, kau juga jadi saksi rasa ini.

Perih....

Sebulan yang lalu, di taman itu, di sebuah senja yang berbalut mendung. Semua itu terjadi. Sakit itu ku rasakan. Perih itu ku nikmati bersama sisa-sisa kekuatan yang masih tersisa dalam diri.

Tapi, yah mungkin memang sebuah keniscayaan bagiku tuk hanya ditakdirkan mengaguminya dalam hati, mencintainya dalam diam. Aku sadar, semuanya memang harus ku buang jauh dalam diri sekuat apapun ia mencengkeram. Walaupun aku masih tertatih-tatih menyeretnya tuk jauh dalam diri, aku akan tetap berusaha sekuat mungkin tuk itu.

Kenangan yang menyakitkan memang tapi aku selalu mengingatnya kembali dalam lembaran hariku, ku ajak menemani kala sepi. Apa ini yang dikatakan guruku bahwa kenangan terindah adalah kesedihan mendalam? Sehingga aku tiada jenuh mengingat kembali kenangan menyakitkan itu?

Ifa, senyumu tetap abadi dalam hati. Kalaupun engkau bukan purnama yang ditakdirkan untuk menyinari kesuraman hatiku, engkau tetaplah perempuan terindah yang ku tahu. Engkau perempuan bijak yang memiliki hati yang lembut, selembut senyum dan wajahmu. Terima kasih telah mengajarkan cinta yang tak harus memiliki ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar