Senin, 24 Januari 2011

Aku



Aku salah seorang dari sekian manusia yang selalu gelisah. Salah seorang dari sekian orang yang tak pernah puas pada keadaan yang kurasakan juga kualami baik dalam sadar dan sesekali bahkan di dunia mimpiku. Aku orang yang selalu bertanya pada hidup, bertanya pada jiwa dan nurani terkadang juga pada nafsu. Terhadap kebenaran akupun tidak puas hanya dengan tahu bahwa itu benar, tapi lebih jauh  dari semua itu akupun harus tahu kenapa semua itu benar, apa hakikat kebenaran itu. Seorang guru pernah berkata beberapa tahun silam bahwa imam besar dalam agamaku pernah berkata ‘jangan pernah puas terhadap sebuah kebenaran kecuali  telah tahu hakikat kebenaran itu’.

Aku adalah seorang pemberontak. Pemberontak yang tak mau sedikitpun diperintah, dijajah, diperhamba kecuali oleh hal yang memang ku ijinkan dalam hati. Aku adalah jiwa pemberontak, jiwa yang tak pernah mengakui penjajahan terhadap jiwa-jiwa yang sebenarnya bebas kecuali hanya kepada yang Satu. Aku mencintai jiwa seperti jiwanya Rakuti ataupun Nambi, aku mencitai jiwa seperti jiwanya Diponegoro ataupun Tirtayasa, aku mencintai jiwa seperti jiwanya Sudirman. Jiwaku adalah jiwa pemberontak.

Aku orang yang keras, tapi aku bisa menjadi orang yang sangat lembut atau bahkan lemah di saat-saat tertentu. Aku orang yang gampang marah, tapi aku juga orang yang sangat gampang menangis. Penghinaan, tidak menghargai, kesombongan, kedzaliman adalah salah satu dari banyak hal yang ku benci. Di lain hal, aku akan sangat menangis ketika berdua dengan Tuhanku, menunduk sesekali tengadah menupahkan segala gundah dan berkesah padaNya tentang hidupku dan kegundahan jiwa. Air matakupun akan gampang jatuh saat mengingat wajah ibu. Aku adalah orang yang keras sekaligus lemah. Aku ingin seperti Umar ataupun Ali. Aku juga ingin seperti jiwanya Salahuddin. Tapi, di beberapa hal aku juga benci pada keras ataupun lemah.

Aku orang yang mudah mengagumi seseorang atau hal apapun. Tapi, aku tidak gampang mencintai seseorang, sangat butuh banyak waktu untuk bisa mengijinkan hati mencintai. Aku orang yang cepat tersinggung di beberapa keadaan, namun terkadang aku begitu sulit untuk membenci. Benci sebenarnya pada benci walau terkadang pada akhirnya aku tetap membiarkan hatiku untuk membenci. Aku orang yang telah belajar cinta sejak lahir, tapi sampai saat ini cintaku tetap tak terdefinisi. Aku orang yang telah lama bersahabat dengan rasa sedih,sakit atupun keperihan, sampai suatu saat aku mengetahui bahwa sedih tak selamanya sakit, juga sakit tak selamnya perih, terkadang aku merasakan sakit yang indah, sakit yang selalu ku rindu. Aku telah mengenal cinta dan air mata sejak lahir.

Rabu, 24 November 2010

Surat Si Kecil Sheila kepada Torey

Mereka semua berdatangan..
mereka mencoba membuatq tertawa..
mereka mengajakq bermain..
sebagian bermain untuk bersenag-senang..
dan sebagian untuk dikenang..

Dan,kemudian mereka pergi..

meninggalkan q di tengah reruntuhan permainan..
tanpa tahu yang mana harus dikenang dan yang mana untuk sekedar bersenang-senang..
dan,mereka meninggalkanq denga gema dari tawa yang bukan milikq..

Lalu,datanglah kau dengan caramu yang lucu..

tidak seperti orang lain..
kau membuat aku menangis tersedu sedan..
dan,tampaknya kau tidak peduli meski q menangis..
kau bilang permainan sudah selesai..
dan,menunggu....
sampai seluruh air mataq berubah menjadi kebahgiaan...

Cinta ini akan selalu q jaga untukmu....

Nothing


Andai saja malam ini kau datang dengan wajah cemberutmu yang selalu ku rindukan itu, mungkin hati ini akan sedikit terhibur karena mungkin aku tak akan lagi duduk di teras ini, menengadahkan wajah ke langit dengan harap ada rembulan walau sabit saja, karena seperti kataku selalu padamu "rembulan selalu mengingatkanku padamu", entah karena alasan apa aku memang salah satu dari sekian orang yang mengagumi rembulan, ia bagiku seperti senja yang tak pernah bosan ku nikmati beberapa tahun ini..
kamu,..dengan wajah cemberutmu sangat ku rindukan malam ini...

Senin, 22 November 2010

Purnama Semu 2

Ifa namanya. Bukan. Aku tidak tahu persis siapa namanya kala itu, hanya aku biasa menyebutnya dengan nama itu. Dia juga tidak peduli aku menyebutnya dengan nama apa, asal bukan sebutan yang buruk, katanya. Bijak juga. Ya, dialah perempuan yang telah menghadirkan keanehan yang tak ku mengerti. Kadang juga berbalur dengan rasa sakit yang tak terperi. Kadang juga menyeret hatiku merasakan sakit yang indah, sakit yang selalu ku rindu. Aneh memang. Tapi ku pikir tak usahlah menyesali apa yang telah terjadi. Yang terjadi itu adalah yang terbaik, “Tuhan tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, artinya yang terjadi memang yang terbaik”, Begitu kata guru ngajiku waktu masih SD. “ Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dariku." Kalimat yang sama-sama bijak juga hati yang mengatakannya juga hati yang bijak, aku menyukai hati keduanya.

Itulah sedikit gambaran tentang Ifa yang ada di hatiku. Perempuan yang memiliki senyum yang indah, hati yang bijak, perkatannya yang halus, tak lupa juga perempuan yang misterius. Ia sulit ku tebak seperti apa dan bagaimana. Tatapan matanya sangat sulit ku selami, ada rona disana. Tapi tetap saja disana tersaji keteduhan yang menyejukkan.

Ifa mungkin memang terlahir untuk menebarkan pesona untukku atau mungkin juga untuk kebanyakan adam yang lainnya. Seandainya ia lahir di masa mesir kuno ia akan mengantikan pesona Cleopatra sehingga mungkin Ifalah yang akan membuat Julius Caesar bertekuk lutut di hadapannya seperti bersimpuhnya hatiku di hadapannya. Ifa, Engkau memang indah.

Sebulan yang lalu, tepatnya di sebuah senja yang berbalut mendung itu. Semua rasa sakit berawal dari sana. Tapi ku pikir ia memang semestinya ku rasakan daripada memendam ketidakpastian yang akan membuat hati semakin tersiksa. Saat itu masih sore tapi panasnya udara tidak terasa sedikitpun, sore yang bersahabat. Saat itu, aku berniat tuk memberanikan diri mengatakan apa yang ku rasa padanya. Tekatku telah bulat. Aku mengambil hpku.

"Sore, sre ini ada acara ga..? klo bisa q pngn ktmu kmu d taman, ada hal yang pngn q smpaikn.” Klik, message send.

Beberapa detik kemudian hp berbunyi. Sudah pasti dia membalasnya.

"Sore jga, ga ada kok. emang ad ap,kyaknya pntng bnget..?"

"Iy bgq pntng c, ntr jga thu.bsa kn...?"

"Ok deh, insy..."

"Mkc...” Klik. ku letakkan hp di meja.

Sore itu, matahari tidak seterik hari-hari sebelumnya ia serasa lelah menyinari bumi yang selalu membutuhkan sinarnya. Aku menunggunya di taman, duduk di bangku yang memang disediakan di sana. Sesekali angin menyapaku seakan bertanya sedang apa duduk termangu. Beberapa menit kemudian dia terlihat melangkah gontai ke arahku. Dia datang. Dia memakai baju coklat muda dengan lengan panjang. Roknya hitam dengan beberapa sulaman bunga-bunga putih yang tidak begitu tampak. Wajahnya dibalut jilbab hitam kelam. Wajahnya putih bersih. Ada senyum tersungging di bibirnya ketika matanya beradu pandang dengan mataku. Aku tidak dapat menyembunyikan rasa yang terus berkecamuk dalam dada, takut, cemas, malu, bingung berbalur jadi satu.

"Hai, dah lama nunggunya ya..?" Aku tergeragap mendengarnya, bingung menjawabnya seakan dia menanyakan rumus matematika yang ku benci.

"Iii..iyaa, enggak kok" Ah mulutku seakan kelu mengucapkan kata-kata seperti bayi yang baru mau belajar bicara. Aku tidak tahu seperti apa raut wajahku saat itu. Ku coba menenangkan diri, menghirup nafas dalam-dalam, mengeluarkan kembali sampai tiga kali tapi tanpa sepengetahuannya.

"Kenapa, kok gugup seperti itu..? Ada yang salah..?"

"Enggak kok, enggak apa-apa. Makasih telah mau datang.Silahkan duduk"

"Owh, sore ini indah ya" Sambil duduk di sampingku dia mengitarkan pandangannya ke awan yang memayungi kami.

"Iii, iya" aku kembali gugup. Tak ku sangka dia juga mengagumi sore ini.

"Sore yang indah seindah wajahmu" Tanpa ku sadari kalimat itu keluar begitu saja, tanpa bisa ku kendalikan. Sontak aku terkejut.

"Ah, bisa aja" Ku lihat dia juga tidak bisa menyembunyikan kekagetannya mendengar ucapan konyolku tadi. Aku mencoba membalasnya dengan senyum yang entah apa artinya.

"Fa, sengaja aku mengajakmu kesini, lebih tepatnya mengundangmu ke sini tak lain juga tak bukan hanya menuruti keinginan hatiku saja." Aku mengucapkan tanpa berani menatapnya.

"Maksudmu?"

"Kamu telah menghadirkan keanehan yang tak ku mengerti"

"Keanehan apa?"

"Keanehan yang selama ini, ya, selama aku tahu kamu, aku kenal kamu, menghantui tiap helaan nafasku"

"Aku enggak mengerti maksudmu" Ia menatapku dalam-dalam, ku lihat sekilas ada kerutan kecil di dahinya.

"Aku tidak tahu persis seperti apa aku menggambarkannya padamu. Tapi ia nyaris menyita seluruh waktuku tuk melakukan apapun. Kamu hadir dalam hidupku begitu saja. Aku tidak tahu kapan aku mulai merasakannya, namun lambat laun rasa itu semakin kuat mencengkeram hatiku. Aku telah berusaha melepaskannya namun semuanya sia-sia, rasa itu semakin tumbuh bersemi di relung hatiku. Semakin aku berusaha membuangnya semakin kuat pula ia memelukku. Ia memaksaku untuk selalu mengingatmu di setiap malam dan hariku. Aku tidak sanggup menghilangkan pesonamu yang telah tertancap kuat dalam hati" Sesekali aku harus menarik nafas di tengah-tengah perkataanku. Bahkan, aku nyaris tidak tahu apa yang telah keluar dari mulutku, berbagai rasa mengaduk-ngaduk isi hati.

Suasana hening, dia tidak menjawab sepatah katapun. Matanya menatapku seakan ingin mengungkapkan ribuan bahasa yang hanya bisa terkatakan oleh matanya.

"Fa, aku hanya ingin mengatakan semua ini padamu agar aku tidak mempunyai beban lagi dalam hati. Aku juga enggak mengharap banyak padamu, ya kamu juga mempunyai rasa yang sama denganku, enggak, walaupun aku mengharapnya begitu. Aku tahu siapa aku dan siapa kamu. Kamu perempuan terindah yang aku tahu saat ini. Kamu bagai permata yang bersinar di tengah ribuan kerang-kerang yang dekil. Namun, sekarang dengan kerendahan hati, aku memenuhi keinginan hatiku tuk mengatakan ini semua padamu. Maukah kamu menemaniku kala sepi, maukah kau menjadi pelita di tengah kekalutan hidup yang ku hadapi, maukan kau mengisi kekosongan jiwaku..?? aku tahu aku sangat lancang mengatakan semua ini, maafkan aku." Ku kuatkan hati mengatakan semuanya, dadaku serasa sesak bagai ditindih batu yang besar. Aku tetap tidak berani menatapnya.

"Fan, kenapa kamu baru ngomong sekarang? Kenapa kamu bilang saat aku telah menerima cintanya? Kenapa kamu hadir saat aku baru belajar merasakan kebahagiaan dengannya, kenapa..?" emosinya menguap mengiringi setiap kata yang ia ucapkan. Ada bening di pelupuknya, nyaris jatuh tapi buru-buru dia usap.

"Maksudmu..?"

"Iya, aku telah menerima jony, teman kamu juga. Kita jadian sebulan yang lalu" Bagai tersambar petir aku mendengarnya, hatiku bagai dihunjam ribuan bahkan jutaan panah beracun. Aku tidak percaya apa yang ku dengar. Aku seolah berhenti bernafas, seperti tidak ada udara yang bisa ku hirup.

"Tapi..." Aku tidak bisa meneruskan perkataanku.

"Tapi apa, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kamu diam saja? Dari dulu aku ingin kamu mengatakan kamu suka aku, kamu ingin bersama aku. aku ingin kamu hadir di saat aku kesepian. Aku mengharap kamu di setiap malamku. Aku mengharap kamu datang menemaniku. Tapi apa, apaa...?? Kamu sama sekali tidak pernah merasakannya, kamu tidak pernah datang padaku" Ia tidak dapat lagi menahan air matanya. Satu demi satu butir-butir bening itu jatuh membasahi pipinya. Tangannya yang mungil tidak dapat lagi menghalanginya.

Aku tidak dapat berkata apa-apa, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya mampu diam dan diam. Kepalaku pening. Dadaku sesak. Ia terdengar sesunggukan sesaat, lalu hening. Kami diam beberapa menit. Mungkin hanya dengan diam semuanya terkatakan.

"Fan, makasih atas kejujuranmu. Aku sangat menghargainya, walaupun sebenarnya telah lama aku mengharapnya hingga kamu hadir sekarang, saat aku telah berusaha tuk menghapusmu dengan cintanya. Beribu maaf bagimu. Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dariku"

"Maafkan aku" Ucapnya serak. Aku hampir tidak mendengarnya. Kembali bening itu jatuh dari pelupuknya. Ia lalu beranjak meninggalkanku sendiri di taman, berlari dan menghilang di sudut jalan sana.

"Maafkan aku Fa" Bibirku bergetar mengucapkannya walau di hadapanku hanya terhampar rumput-rumput yang menghijau dan bunga-bunga tanpa ada dia mendengarnya, tapi paling tidak rumput dan bunga itu juga jadi saksi perihnya hatiku merasakan semuanya. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Aku mencoba menengadahkan wajahku. Ku lihat senja di sana, senja yang biasanya indah, kini berbalut mendung. Senja, kau juga jadi saksi rasa ini.

Perih....

Sebulan yang lalu, di taman itu, di sebuah senja yang berbalut mendung. Semua itu terjadi. Sakit itu ku rasakan. Perih itu ku nikmati bersama sisa-sisa kekuatan yang masih tersisa dalam diri.

Tapi, yah mungkin memang sebuah keniscayaan bagiku tuk hanya ditakdirkan mengaguminya dalam hati, mencintainya dalam diam. Aku sadar, semuanya memang harus ku buang jauh dalam diri sekuat apapun ia mencengkeram. Walaupun aku masih tertatih-tatih menyeretnya tuk jauh dalam diri, aku akan tetap berusaha sekuat mungkin tuk itu.

Kenangan yang menyakitkan memang tapi aku selalu mengingatnya kembali dalam lembaran hariku, ku ajak menemani kala sepi. Apa ini yang dikatakan guruku bahwa kenangan terindah adalah kesedihan mendalam? Sehingga aku tiada jenuh mengingat kembali kenangan menyakitkan itu?

Ifa, senyumu tetap abadi dalam hati. Kalaupun engkau bukan purnama yang ditakdirkan untuk menyinari kesuraman hatiku, engkau tetaplah perempuan terindah yang ku tahu. Engkau perempuan bijak yang memiliki hati yang lembut, selembut senyum dan wajahmu. Terima kasih telah mengajarkan cinta yang tak harus memiliki ini.

Minggu, 21 November 2010

Purnama Semu

Disini , saat ini, sungguh sangat berbeda dengan waktu itu, saat aku merasakan rasa itu,waktu itu. Begitu berbeda dengan apa yang aku rasakan sekarang, rasa yang sanggup membuatku bingung memahaminya. Aku tidak tahu rasa itu berangkat darimana,apakah dari setumpuk khayalan tentang cinta, perasaan yang tersakiti, ataukah hanya sekedar nostalgia masalalu, ah aku masih belum bisa membahasakan apa dan bagaimana. Akupun belum mengerti apakah semua itu memang tidak bisa dibahasakan atau bahasaku belum sanggup melampuinya.

Disini, semuanya kadang tampak aneh, seaneh ia mendatangiku darimana. Sekarang aku hanya sekedar menyadari bahwa ia ada, keanehan yang lagi-lagi tidak sanggup ku mengerti. Saat itu aku telah katakan kepada hati bahwa sudah cukup kau merasakannya, sudah cukup kau terluka karenanya, sudah cukup kau sita senyummu dengan guratan kesedihan atau bahkan airmata yang seharusnya kau tumpahkan kepada Sang Empunya rasa itu. Sudah cukup kiranya semua itu aku rasakan. Tapi yah..,sekali lagi aku terpaksa menerimamu disini dengan segala keanehanmu.

Disini, aku belajar memahami dirimu, apakah kau memang seperti yang pernah ku kenal selama ini atau kau memang benar-benar suatu yang asing yang sama sekali belum pernah menyapa hidupku. Terkadang banyak orang mengatakan hal yang baru itu menarik, yah…terserah mereka bilang apa, aku tidak peduli aku hanya sekedar ingin memahami dan mengenalmu saja, tidak lebih. Kenapa …..

“Hey…what’s happen uy….???” Lilis meleburkan lamunanku, dia berdiri sambil menepuk kedua tangannya di depan wajahku, khas gaya dia. Sontak Aku terkejut, namun buru-buru ku ganti mimik wajahku seakan tidak ada apa-apa.

“Ciee..ciee…ngelamunin siapa ni…?hahh…hah.” Ejek dia ketawa-ketawa sambil duduk di samping kananku.

“Enggak ada ko, Cuma mencoba berpikir tentang hidup aja.” Kilahku.

“Hidup apa hidup…hidup siapa…?” Dia tidak mau kalah, sambil tersenyum dia mengucapkannya. Dia memang sering bercanda tapi jauh diluar sikap yang kadang selalu tidak pernah serius, dia adalah teman yang baik.

“Hidup siapa aja boleh….he..he..” Aku mengintonasikan seperti seorang teman yang sering bilang dengan kata-kata itu, siapa aja boleh. Kitapun sama-sama tertawa lepas seakan sore itu hanya milikku, seakan tidak ada sedikitpun beban dalam hati, seakan kebahagiaan hanya aku yang merasakan. Sesaat aku merasakan ini, begitu indahnya. Seandainya aku selalu merasakan ini…., ya seandainya. Makasih Lis kau telah menghadirkan tawa dan senyuman yang telah lama ku rindukan, walau hanya sesaat.

“Eh sebentar fan, sepertinya menarik ni ngomongin hidup…” Dia kembali menyadarkan lamunanku. Matanya menerawang ke depan seolah ia mau mengukur jarak matanya memandang.

“Kayaknya ada yang beda ni…” Sambil tersenyum ku mengucapkannya.

“Apanya yang beda..?” Tanya dia polos sambil mengerutkan kening.

“Tumben kau ngomong serius….hah..ha..ha..” Dia gusar begitu tahu ku kerjain.
“Eh dasar….” Dia mengucapkannya dengan wajah cemberut.

“Ok..ok mbak, baik…kita lanjutin yang tadi…” Aku kadang memang memanggilnya mbak walau usianya mungkin sedikit di bawahku. Dia sudah mendengarkanku dengan serius, mimik cemberutnya sudah hilang dari wajahnya.

“Hidup,…banyak orang mendefinisikan hidup dengan segala keanekaragamannya, hidup seperti ini lah, hidup seperti itu lah. Bagiku sih simple saja. Hidup ya…ya apa yang kamu rasakan sekarang, apa yang kau rasa ini, itulah hidup. Guruku pernah bilang bahwa tingkat filosofi tertinggi dalam hidup sebenarnya adalah now and here….emm…walaupun aku belum tahu secara pasti sih apa arti sebenarnya dari kata itu, tapi mungkin ia termasuk di dalamnya…” Ucapku panjang lebar.

Dia mendengarkan sesekali sambil manggut-manggut, tapi keningnnya kembali berkerut.” Aku enggak ngerti…. “ Dia lugu sekali mengucapkannya.

“ Sama, aku kadang juga enggak ngerti..he…he..” Aku tersenyum mengucapkannya.

“Ah curang nii…!!!

Sore itu kembali ku lalui seperti hari-hari kemarin, hari semenjak aku berkenalan dengan semua itu. Semuanya kadang tampak hambar, kadang juga beragam rasa yang tak ku mengerti harus ku definisikan apa. Apakah mereka juga merasakan hal ini aku tidak tahu. Kadang aku berbicara tentang hidup kepada teman-teman, berbicara tentang cinta, kadang-kadang. Tapi sepertinya aku tidak lebih dari seorang bocah kecil yang baru belajar menulis A, B dan C, sementara tumpukan buku itu adalah hidup.
Ah..alangkah kerdilnya diriku. Barangkali memang perlu waktu memahami semuanya.

Aku masih sangat ingat…

“Kamu memang hebat ya….!!” Kataku saat itu, saat senja yang berbalut mendung.

“Apa kali yang hebat…??” Ucapnya sambil tersenyum, memang setiap dia berkata, jarang sekali aku melihat bibir itu tidak tersenyum. Indah memang, untuk pertama aku melihatnya, tapi sekarang senyum itu tidak lebih dari kaktus berduri yang ditusukkan di hati, ya satu kata, perih. Tetapi aku meyakini itu mungkin memang yang terbaik yang harus terjadi.

“Auramu…”Kataku nyaris tak terdengar.

“Bercanda kali…Aura Kasih…he..he”Senyumnya kembali menghiasi bibirnya yang ranum. Dia begitu damai mengucapkannya, ya setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan selalu dia bumbuhi dengan kedamaian, atau mungkin aku yang melihatnya dari sudut yang berbeda, sudut yang lagi-lagi sulit ku jelaskan.

“Bukan Aura Kasih, tapi “Auramu”. Ia belum bisa ku buang dari hati ini. Padahal aku ingin membuangnya jauh-jauh, karena aku menyadari ia memang tidak boleh ada di hatiku. Tapi Ia begitu kuat mencengkeram hatiku. Tolong kasih tahu dong aku harus ngapain…?” Dengan suara berat ku kuatkan diri tuk mengatakannya.

“Aku juga gak tahu kamu harus ngapain…” Ucapnya datar, suaranya lembut.

“Doain ya, agar semua itu cepat berlalu dari hidupku karena ia sangat menyakitiku…” Desahku pelan.

“Masya Allah, aku menyakitimu ya…? Enggak ada sedikitpun niat dalam hatiku ngelakuin itu…!” Matanya yang teduh memandangku, ah aku tidak sanggup menatapnya.

“Bukan kok, bukan kamu. Kamu tidak pernah menyakitiku. Aku tersakiti karena diriku sendiri, karena perasaanku, perasaan yang kadang tidak patuh padaku. Gak apa-apa ko, semuanya akan baik-baik saja. Makasih ya…makasih atas semuanya.” Aku mencoba tersenyum, ya bibirku tersenyum, hatiku tidak.

“Makasih untuk apa…?

“Kebaikanmu…”

“Kebaikan apa…?

“Kebaikan sikapmu...”

“Sikap yang mana…?”

“Sikap yang ku suka…”

Dia tersenyum…

“Ya, sama-sama..”

Sesaat kadang aku manyadari bahwa ia tidak lebih dari perempuan biasa, perempuan yang biasa-biasa saja. Dia bukanlah perempuan tercantik yang pernah ku temui ataupun ku kenal. Dia juga bukan bidadari yang menjelma menjadi manusia seperti Nawang Wulan. Matanya yang sayu penuh kedamaian, hidungnya yang mancung, bibirnya yang selalu terbalut senyum yang indah, rasanya bukan sekali ini aku melihatnya. Tapi kenapa semuanya serba berbeda, dia tidak seperti yang lain walau mungkin sama. Atau mungkin juga ada hal yang tak terlihat yang membuatnya berbeda dari yang lain….? ya…sikapnya. Dia sopan. Dia sangat menghargai orang lain. Tidak norak. Dia juga mengerti perasaan. Ya mungkin itu yang membuatnya berbeda, mungkin ia juga yang telah menarik hatiku merasakan keanehan yang tak ku mengerti.

Ya…aku masih sangat ingat semua itu…….

Sang Surya telah menguning keemasan di ufuk barat sana pertanda malam akan mengganti sinarnya dengan selimut kekelaman, seperti kelamnya hatiku yang tak terjamah oleh Rembulan yang biasa menemani malam, Rembulan yang indah yang menyejukkan hati..yah..semoga suatu saat ada Rembulan yang mau manyinari hati ini dengan kedamaian dan kelembutan sinarnya.

*****